Home » » BURDEH

BURDEH

             BANGKALAN, Kecamatan tanjung bumi tepatnya di Desa Bungkeng ada sebuah tradisi yang diberi nama burdeh. Burdeh ini biasanya dilakukan  ketika ada  musibah khususnya pada  saat banyak masyarakat terserang penyakit muntaber. Disini perlu kita ketahui bahwasanya ketika masyarakat melakukan tradisi burdeh maka itu pertanda bahwa  ada lebih dari dua warga yang telah meninggal akibat terserang penyakit muntaber. Tradisi ini tidak akan dilakukan ketika warga desa bungkeng terserang penyakit muntaber tetapi tidak menyebabkan kematian.


             Seperti tradisi-tradisi yang lainnya, tradisi burdeh juga mempunyai alat-alat yang cukup terbilang unik. Dalam tradisi burdeh terdapat berbagai macam alat yang wajib dibawa dan alat yang tidak wajib namun tidak apa-apa untuk dibawa. Untuk alat yang wajib dibawa adalah keris dan buku dhiba’ (kitab sholawatan), dan untuk alat yang tidak wajib namun tidak apa-apa untuk dibawa seperti obor, pecut, rajang (semacam besi). Penggunaan keris berguna untuk mencegah penyakit-penyakit yang dipercaya oleh masyarakat berasal dari setan untuk tidak kembali merasuki masyarakat, buku dhiba’ (kitab sholawatan) berguna untuk dipaca sepanjang perjalanan yang juga dipercaya mengusir setan, serta obor, pecut, dan rajang hanyalah alat tambahan yang berguna sebagai peramai dalam traadisi ini yang juga dipercaya untuk menakuti setan agar berlari jauh dari masyarakat desa Bungkeng.

   Tradisi Burdeh ini berupa perjalanan yang dimulai dari kediaman seseorang yang mengadakan acara burdeh ini dimana dalam perjalanan ada yang membawa obor, pecut, dan semua alat yang sudah disebutkan tadi dan uniknya sepanjang perjalanan masyarakat membaca sholawat dengan di pimpim satu orang di depan dan berhenti disetiap persimpangan jalan untuk menunaikan adzan yang berguna untuk menakut-nakuti setan yang akhirnya pergi dari desa Bungkeng. Tradisi ini harus dilakukan selama tujuh hari tidak boleh kurang dan tidak apa-apa kalau lebih. Mengapa harus tujuh hari itu dikarenakan masyarakat sekitar yang masih kental religi percaya bahwa angka tujuh adalah sunnah. Setiap malam pemberhentian dari malam ke malam selalu berubah selama itu masih disekitar desa Bungkeng. Setelah sampai pada tempat tujuan, masyarakat kembali lagi dengan jalan yang sama sampai titik pemberangkatan.

0 comments:

Post a Comment