Web Ini Merupakan Laman Web Resmi Desa Bungkeng Kecamatan Tanjung Bumi Kabupaten Bangkalan. Web ini Berisi Tentang Seluruh Informasi Desa Bungkeng Baik Berupa Kegiatan Warga, Informasi Desa dan lain-lain.
DESA BUNGKENG
Home » » AJHEB BUMIH DAN SETITIK HARAPAN PAK SAWI WARGA BUNGKENG

AJHEB BUMIH DAN SETITIK HARAPAN PAK SAWI WARGA BUNGKENG



AJHEB BUMIH DAN SETITIK HARAPAN PAK SAWI WARGA BUNGKENG

          19 Januari 2018. Depan posko KKN kelompok 1 dikerubuti warga desa Bungkeng. Heran tentu kami rasakan. Sebelumnya tidak ada undangan atau kesepakatan dengan warga untuk mengahdiri posko kami saat itu. Segera kami mengkonfirmasi dengan salah seorang petinggi di desa Bungkeng yang juga turut hadir. Kebetulan letak posko kami berhadapan dengan rumah salah seorang warga desa Bungkeng yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan pemilik rumah kami berdiam. Merekalah keluarga Pak Sawi. Sebenarnya warga tidak mendatangi posko kami, hanya saja halaman rumah yang menjadi satu menyebabkan kesalahpahaman yang tidak terhindar. Segera Pak Sawi menjelaskan duduk perkara yang sedang terjadi.

          Warga desa Bungkeng sebenarnya memenuhi undangan keluarga Pak Sawi untuk melaksanakan ritual adat yang disebut Ajheb Bumih. Terdengar asing bagi kami tentang ritual tersebut. Sebelum kami meminta penjelasan mengenai ritual yang disebut Ajheb Bumih, kamipun memenuhi undangan keluarga Pak Sawi. Berbagai runtutan acara telah diikuti oleh warga Bungkeng. Berbagai sesajen pun tersedia ditengah warga yang mengikuti acara ritual Ajheb Bumih. Sesajen tersebut terdiri dari 7 butir telur rebus, ketan hitam, kembang 7 rupa yang dicampur dengan kupasan kulit telur yang telah dikupas dan dicampur dengan air, dupa, dan 7 piring bubur ketan hitam. Entah apa maksud dari penyajian tersebut kami belum mengetahuinya. Terus saja acara demi acara kami ikuti bersama warga Bungkeng yang hadir.

          Acara tersebut tidak berjalan begitu saja. Namun ada pemimpin adat yang memimpin jalannya acara mulai dari awal hingga akhir. Namanya Pak Satuki, salah seorang warga Bungkeng yang dimandatkan oleh keluarga Pak Sawi untuk memimpin acarara Ajheb Bumih. “Beliau adalah seorang guru ngaji yang memiliki pondok pesantren”, kata Bu Sawi setelah kami tanya. “Bisa dibilang beliau adalah seorang kyai”. Tambah Bu Sawi meyakinkan pertanyaan kami.

          Acara dimulai menjelang maghrib saat itu. Diawali dengan membaca doa-doa yang kami kurang memahami isinya. Hanya saja kami paham jika doa tersebut menggunakan bahasa Arab. “Itu doa khusus untuk keselamatan.” Kata Bu Sawi yang duduk tepat disebelah kami. Sesekali kami menanyakan untuk sekedar mengetahui maksud acara Ajheb Bumih ini. Rangakaian acarapun selesai. Ditutup dengan makan-makan sajian yang disediakan oleh tuan ruamah.

          Bu Sawi yang menjadi narasumber kamipun menjelaskan maksud dari acara ritual adat Ajheb Bumih. Jadi, Ajheb Bumih merupakan acara yang dilakukan untuk meminta kesuburan, kelimpahan rizki, kesuburan tanah kepada sang maha pencipta Allah SWT. Acara tersebut diklakukan setiap hari jumat wage selama 7kali berturut-turut. Setelah 7x, jumat wage selanjutnya tidak diadakan acara tersebut dan dilanjut jumat wage beriktnya. “Jadi setelah 7x ditunda 1x jumat wage lalu dilanjutkan selama 7x, dan begitu seterusnya.” Ujar Bu Sawi. Acara dilakukan menjelang maghrib karena setelah acara selesai dapat segera melaksanakan ibadah sholat maghrib. Untuk yang melakukan acara Ajheb Bumih ini tidak diwajibkan untuk tiap orang, tapi terserah yangmau melakukannya. Dan kebetulan keluarga Pak Sawi rutin melakukan acara Ajheb Bumih ini.

          Mengenai sesajen, yang telah disebutkan sebelumnya, merupakan adat yang sudah diikuti keluarga Pak Sawi. Untuk kupasan kulit telur yang dicampur air bunga tujuh rupa dikubur di 4 sudut rumah. “Tujuannya untuk keselamatan dan rizki”, kata Bu Sawi. Setelah lama berbincang sambil menikmati hidangan, kamipun berniatan untuk membantu berberes rumah BU Sawi. “Besok saja mencuci piringnya, kalian tidak boleh. Apalagi sekarang. Pamali” kata BU Sawi sambil merebut piring kotor yang sudah kami tenteng dan siap untuk dicuci. Seketika kami tertarik. “Sudah menjadi adat, setelah acara selesai yang boleh mencuci piring atau bersih-bersih hanya keluarga yang bersangkutan dan harus dilakukan esok harinya” jelas Bu Sawi. Banyak ilmu yang kami dapat dari Ajheb Bumih di desa Bungkeng ini.


0 comments:

Post a Comment