Web Ini Merupakan Laman Web Resmi Desa Bungkeng Kecamatan Tanjung Bumi Kabupaten Bangkalan. Web ini Berisi Tentang Seluruh Informasi Desa Bungkeng Baik Berupa Kegiatan Warga, Informasi Desa dan lain-lain.
DESA BUNGKENG
Home » » KISAH MA’ TURAH TENTANG BULAN GERE’EN DI BUNGKENG

KISAH MA’ TURAH TENTANG BULAN GERE’EN DI BUNGKENG



Indonesia hari ini di hebohkan oleh Fenomena Gerhana “Blue Blood Moon” atau yang biasa kita kenal dengan sebutan Gerhana Bulan Darah Biru.  Gerhana bulan total akan dapat dilihat di seluruh wilayah Indonesia, salah satunya di Desa Bungkeng kecamatan Tanjung Bumi pada (31/01/2018) malam. Ini merupakan fenomena yang sangat langka karena bulan menunjukkan tiga fenomena sekaligus, yaitu Supermoon, Bluemoon dan Bloodmoon. Sehingga dinamakan Super Blue Blood Moon oleh NASA (Humas Kota Bandung).

Nah, berbicara mengenai fenomena alam gerhana bulan di Indonesia. Terdapat sesuatu yang unik terjadi di desa Bungkeng. Seketika suara kentongan dibunyikan serentak oleh warga Bungkeng. Semakin lantang dan semakin lantang seolah berlomba. Merasa penasaran, kami kelompok KKN 1 Universitas Trunojoyo Madura mencoba untuk menyusuri sepanjang jalan yang ada di Bungkeng malam itu. Hingga akhirnya kami tertarik pada salah seorang rumah warga yang sedang memukul cetok (sekop sampah) menggunakan kayu dengan lantang. Ma’ Turah namanya. Orangnya sederhana dan ramah, sekitar usia 50 tahunan. Beliau tinggal tidak jauh dari posko KKN kelompok 1.
Alasan mereka membunyikan bunyi-bunyian dengan keras adalah untuk memperingati warga karena telah terjadi bulan Gere’en. Gere’en merupakan Bahasa Madura yang memiliki arti “Sakit”. Jadi, bulan Gere’en artinya “Bulan Sakit” begitu penjelasan Ma’ Turah. Hal tersebut sudah menjadi tradisi warga Bungkeng. Setiap kali terjadi gerhana bulan, warga Bungkeng segera mebunyikan bunyi-bunyian dengan keras untuk memberikan peringatan kepada warga yang lain agar mereka mengetahui keseluruhan bahwa sedang terjadi gerhana.
Selang beberapa menit, Ma’ Turah tiba-tiba memasuki rumah dan ketika keluar beliau membawa sebuah benda tajam di tangannya. Beliau membawa sebuah Kapak. Kapak tersebut ternyata masih memiliki hubungan dengan gerhana bulan yang terjadi. Jadi, setiap kali terjadi gerhana bulan, perempuan-perempuan hamil harus menggigit kapak tersebut sambil melewati kolong Lencak. Lencak merupakan Bahasa Madura yang jika dalam Bahasa jawa disebut Dipan (Tempat tidur yang terbuat dari kayu). Ma’ Turah tidak menjelaskan alasan mengapa hal tersebut dilakukan, hanya saja beliau menjawab sudah menjadi adat warga Bungkeng.


Tidak hanya Ma’ Turah. Mbak Jumiatipun melakukan hal yang sama ketika terjadi genrhana bulan Gere’en malam itu. Bedanya, Mbak Jumiati memunculkan suara yang keras dari kentongan yang dipukul dengan sendok. Memang tidak ada aturan dalam tradisi membunyikan bunyi-bunyian yang lantang ketika gerhana bulan terjadi. Apapun boleh dipukul asalkan memimbulakn bunyi-bunyian yang lantang untuk peringatan warga Bungkeng lainnya. Berbicara mengenai adat dan tradisi memang sangat beragam di Indonesia. Maka, kita sebagai generasi penerus bangsa memiliki kewajiban untuk melestarikan adat dan tradisi nenek moyang agar kita memiliki identitas sebagai warga negara Indonesi yang kaya akan adat, tradisi, dan budaya.



0 comments:

Post a Comment