Web Ini Merupakan Laman Web Resmi Desa Bungkeng Kecamatan Tanjung Bumi Kabupaten Bangkalan. Web ini Berisi Tentang Seluruh Informasi Desa Bungkeng Baik Berupa Kegiatan Warga, Informasi Desa dan lain-lain.
DESA BUNGKENG
Home » , » Potensi Desa Sebagai Primadona Penghasilan Warga Bungkeng

Potensi Desa Sebagai Primadona Penghasilan Warga Bungkeng



Potensi Desa Sebagai Primadona Penghasilan Warga Bungkeng

Sejauh  mata memandang akan tambak hijau dan menyejukkan bagi penikmatnya. Tanah yang subur di desa Bungkeng menjadikan tumbuhan tumbuh subur. Yang banyak tumbuh di desa Bungkeng adalah pohon sukun. Hampir di setiap pekarangan rumah, belakang rumah, sawah, dan setiap lahan kosong pasti ditumbuhi pohon sukun dengan buah yang meronce. Hampir seluruh warga Bungkeng memiliki tumbuhan  ini. Tak heran  jika pohon sukun di desa Bungkeng menjadi tumbuhan primadona.
Primadona ini menjadi salah satu sumber penghasilan warga Bungkeng. Karena saking banyaknya buah yang dihasilkan, warga tidak hanya mengolah sendiri sukun yang dimiliki. Mereka juga menjual sebagian hasil buah yang dihasilkan dari pohon sukun yang mereka miliki. Tiap musim hujan seperti saat ini, banyak buah sukun yang berjatuhan di bawahnya. Warga desa Bungkeng tidak kehabisan akal. Mereka mengolah buah sukun yang jatuh dan masih bagus menjadi beberapa olahan. Seperti, kripik sukun yang sudah banyak diketahui, sukun rebus, dan masih banyak lagi.
Kunci keberhasilan tidak lepas dari kerukunan dan kerjasama warganya. Hubungan kekerabatan antar warga sekitar Bungkeng masih sangat terjaga. Meskipun  jarak antar rumah warga terpaut cukup jauh. Terbukti, jika ada kegiatan pada salah seorang warga, warga sekitar berbondong-bondong datang untuk mengadiri undangan. “Begitupun jika ada sukun yang jatuh misalnya, siapapun yang mau mengambil diperbolehkan karena sudah menjadi milik bersama”, kata Bu Sawi salah seorang warga Bungkeng yang sempat kami tanyai.
            Sayangnya, keberhasilan itu perlu dibarengi dengan penguatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) yang memadai. Alasannya, masih banyak warga desa Bungkeng yang buta huruf.dari jumlah keseluruhan warga Bungkeng yang buta huruf usia 10 tahun ke atas mencapai 61 orang. Dari segi pendidikan, warga yang tamat SD hanya mencapai 12 orang, SMP 28 orang, dan SMA 9 orang, dan masih minim yang memiliki gelar sarjanah. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa sumber daya manusia di Bungkeng masih kurang memadai jika dilihat dari segi pendidikan. Bahkan, masih banyak warga yang hanya bisa menggunakan bahasa daerah sehingga membuat mereka kurang dapat berkomunikasi dengan lancar dengan pendatang. Hal tersebut dapat menadi kendala ketika proses jual/beli dilakukan.
            Selain dikonsumsi sendiri, sukun tersebut juga diperjual belikan. Sukun yang baru diambil dari pohon dijajar rapi di pinggir jalan kemudian ada pelanggan yang akan mengambil sukun-sukun tersebut untuk dijual ke pasar, “disebut tengkulak atau pengepul”  kata Bu Sawi. Transaksi biasanya dilakukan malam  hari karena pasar tempat mereka menjual sukun buka pada malam hari. Harga sukun tiap 15 biji dijual seharga 10 ribu. Murah memang, namun karena banyaknya sukun yang ada mereka masih dapat memperjual belikannya sudah menjadi nilai positif. Karena biasanya, warga desa tidak memiliki inisiatif untuk menjual kembali barang yang melimpah di daerahnya. Tidak untuk warga Bungkeng. Mereka lebih suka berdagang daripada menjadi buruh, alasannya mereka dapat bekerja sesuka hati. Untuk transaksi jual beli sukun biasanya dilakukan oleh warga yang memasuki usia paruh baya. Untuk remaja desa Bungkeng kebanyakan setelah mencapai usia yang produktif mereka berangkat ke luar daerah untuk merantau. Yang menjadi kendala saat proses jual beli adalah komunikasi. Karena, banyak warga desa Bungkeng yang masih hanya menggunakan bahasa daerah yaitu bahasa Madura. Sedangkan untuk pembeli biasanya tidak hanya dari warga daerah yang tidak dapat berbahasa Madura.
            Potensi lain yang juga menjadi primdona di desa Bungkeng adalah ternak. Hampir tiap rumah warga memiliki hewan ternak baik sapi maupun kambing. Hewan ternak tersebut biasanya diletakkan di kandang yang terpisah dari rumah namun tidak terlalu jauh agar pemilik masih dapat mengawasi hewan ternaknya. Setiap pagi hewan ternak tersebut dikeluarkan dari kandang dan dibawa ke lahan  kosong yang banyak rumputnya, “sekalian cari makan sendiri dan biar hewan tidak kaku karenadiikat terus menerus”, ujar Bu Sawi. Perkembangan hewan ternak juga akan lebih bagus jika sering dibebaskan di alam terbuka. Dari hasil ternak sangat menjajikan penghasilannya, misalnya jika sebelumnya hanya memiliki 2 ekor kambing lama kelamaan akan beranak, artinya pemilik sudah mendapatkan untung dari anak kambing tersebut jika dijual begitupun sapi. Untuk menjual hewan ternak, warga Bungkeng juga memiliki trik tersendiri. Mereka akan menjual hewan ternaknya saat harga ternak melambung tinggi. Momen idul Adha misalnya. Keuntungan  mereka akan menjadi berlipat ganda.


            Tidak hanya dua petensi tersebut yang menjadi primadona di Bungkeng. Hasil sawah pun termasuk primadona di desa Bungkeng ini. Suburnya tanah Bungkeng memang tidak dapat dipungkiri. Padi-padi  yang ditanam tumbuh subur dan  melimpah dapat dijadikan sumber pangan warga Bungkeng. Selain padi juga jagung. Dari segi penghasilan., desa Bungkeng termasuk desa yang makmur dan berkecukupan.

0 comments:

Post a Comment