Web Ini Merupakan Laman Web Resmi Desa Bungkeng Kecamatan Tanjung Bumi Kabupaten Bangkalan. Web ini Berisi Tentang Seluruh Informasi Desa Bungkeng Baik Berupa Kegiatan Warga, Informasi Desa dan lain-lain.
DESA BUNGKENG
Home » » PROFIL DESA BUNGKENG

PROFIL DESA BUNGKENG

Monografi Desa Bungkeng



1.        Nama desa                                               : Bungkeng
2.        Tahun pembentukan                                : -
3.        Dasar hukum pembentukan     : -
4.        Nomor kode wilayah                               : -
5.        Nomor kode pos                      : 69015
6.        Kecamatan                                               : Tanjung Bumi
7.        Kabupaten / kota                      : Bangkalan
8.        Provinsi                                   : Jawa Timur

A.       DATA UMUM
1.        Tipologi desa           : Dataran rendah
2.        Tingkat perkembangan desa Swadaya
3.        Luas wilayah           : -
4.        Batas wilayah
a)        Sebelah utara: Paseseh, Tanjung Bumi
b)       Sebelah selatan: Mandung, Kokop
c)        Sebelah barat: Bandang Dajah, Tanjung Bumi
d)       Sebelah timur: Larangan Timur, Tanjung Bumi
5.        Orbitasi (jarak dari pusat pemerintahan)
a)        Jarak dari pusat pemerintahan kecamatan                                : 4 km
b)       Jarak dari pusat pemerintahan ibu kota negara                         : 1 jam
c)        Jarak dari pusat pemerintahan ibu kota kabupaten   : 51 km
d)       Jarak dari pusat pemerintahan ibu kota provinsi                      : 1 jam
6.        Jumlah penduduk
a)        Laki-laki                  : 1073 orang
b)       Perempuan                               : 1978 orang
c)        Usia 0-15                 : 890 orang
d)       Usia 15-65                               : 1823 orang
e)        Usia 65 ke atas        : 338 orang


7.        Mayoritas pekerjaan                                                                                : Petani
8.        Tingkat pendidikan masyarakat
a)        Lulusan pendidikan masyarakat
1.        Taman kanak-kanak: -
2.        Sekolah dasar: 1.321 orang
3.        SMP: 82 orang
4.        SMA / SMU: 36 orang
5.        Akademi / D1-D3: 4 orang
6.        Sarjana: 3 orang
7.        Pasca sarjana: -
b)       Lulusan pendidikan khusus
1.        Pondok pesantren: 156 orang
2.        Pendidikan keagamaan: 129 orang
3.        Sekolah luas biasa: -
4.        Kursus keterampilan: -
5.        Tidak lulus / tidak / belum sekolah:
Jumlah penduduk miskin         :                                               :
UMR kabupaten kota                                                               : -
Sarana prasarana
a.        Kantor desa                                             : -
b.        Prasarana kesehatan                                
1)       Puskesmas                                               : -
2)       Poskesdes                                                : -
3)       UKBM (posyandu,polindes)    : 1
c.        Prasarana pendidikan
1.        Perpusdes                                                : -
2.        Paud                                        : -
3.        TK                                                                   : -
4.        SD                                                                  : 2
5.        SMP                                                              : 1
6.        SMA                                                              : 1
7.        PT                                                                   : -
d.        Prasaran ibadah
1.        Masjid                                     : 2
2.        Musholah                                                : 2
3.        Gereja                                      : -

4.        Pura                                         : -
5.        Wihara                                     : -
6.        Klenteng                                  : -
e.        Prasaran umum
1.        Olahraga                                  : 2
2.        Kesenian budaya                     : -
3.        Balai pertemuan                       : -
4.        Sumur desa                                              : 1
5.        Pasar desa                                                : -
6.        Lainnya                                   : -
B. DATA PERSONAL
1. nama kepala desa                                 : Subairi, S.E
2. nama sekretaris desa                            : H. Budi Iskandar
3. jumlah perangkat desa                         : 14
4. jumlah BPD                                         : 7
C. DATA KEWENANGAN
1.        Jumlah perdes yang telah ditetapkan                       : -
2.        bidang yang diatur ole perdes                                 : -
3.        urusan yang diserahkan oleh kabupaten : -
4.        urusan asli yang masih dilaksanakan desa              : -
a.        Jumlah                                         : -
b.        Jenis                                            : -
5.        Tugas pembantuan / program diterima desa
a.        Pemerintah                      : Raskin, Jamkesmas
b.        Provinsi                          : -

c.        Kabupaten/kota                               : -

Kondisi Sosial Ekonomi Desa Bungkeng

             Masyarakat di desa Bungkeng mayoritas bermata pencaharian petani sebesar 40% dan sisanya sebesar 60% memilih untuk berada dalam jasa dan perdagangan. Hal ini ditunjukkan oleh masyarakat bahwa mereka memiliki lahan pertanian, baik itu sawah ataupun perkebunan dan berusaha untuk diolah sebagai pakan ternak serta dijual.Bagi para petani, masyarakat memilih untuk berkebun guna menghidupi keluarga mereka.Hasil tani mereka lantas dapat dijual di pasar. Tidak terbatas pada hasil perkebunan, para petani pun juga memanfaatkan rumput untuk kemudian dijual kepada pemasok sapi yang akan berguna untuk pakan sapi, meningngat rumput yang dapat dikeringkat adalah menu yang disukai oleh sapi ternak yang ada di desa Bungkeng. 

             Hal yang tak berbeda juga di jasa dan perdagangan, dari mulai berdagang sayur mayur hingga berdagang sapi ternak sudah menjadi mata pencaharian yang menjadikan desa Bungkeng berbeda dengan desa lainnya. Sebagian besar dari para petani rata-rata menanam jagung.Jagung tersebut tidak diolah menjadi produk olahan, namun, petani memanfaatkan jagung tersebut untuk dijual langsung ke pasar. Dengan luas lahan yang average 2 hektar, 0,74 ton jagung dapat diperoleh dalam sekali panen dengan skala tahunan. 
              
                   Pendapatan masyarakat desa bungkeng tidak terbatas pada sektor pertanian, namun sektor peternakan juga mengambil tempat dari sepertiga bagian jumlah pekerja jasa/perdagangan.Pemilik usaha sapi perah sebesar 260 orang dan sapi potong 76 orang. Karena mayoritas pemilik sapi adalah sebuah usaha yang menjanjikan, masyarakat di desa Bungkeng memperjualbelikan sapi ternak mereka ke para pemasok sapi.Mereka juga sering mendistribusikan sapi ternak mereka ke Banjarmasin, Kalimantan.Pendapatan yang diperoleh dari usaha ternak sapi dapat mencukupi kebutuhan dari masyarakat desa Bungkeng.Selain itu, seperempat dari pemilik usaha ayam buras sekitar sebesar 201 orang. Hasil ternak berupa telur dibagi menjadi dua kategori: telur yang dijual ke pasar dan telur yang dapat dierami sehingga mengahasilkan ayam lagi untuk diternak. Seperempat dari usaha kecil masyarakat desa Bungkeng adalah pemanfaatan batu dan kayu menjadi kerajinan yang dapat meningkatkan tarif perekonomian masyarakat itu sendiri.

Kondisi Sosial Budaya Desa Bungkeng

              Masyarakat desa Bungkeng masih sangat menjaga budaya yang menjadi kebiasaan yang telah melekat di desa mereka.Budaya tahlilan pun selalu menjadi prioritas di desa Bungkeng ini.Ritual yang ada setiap salah satu warga meninggal dunia ini dijadikan sebagai adat dan budaya yang selalu mereka lestarikan. Tujuan dari adanya ritual ini dipercaya bahawa masyarakat desa bungkeng akan dekat satu sama lain karena tali silaturahmi akan tetap terus terjaga. Tak dapat dipungkiri bahwa masyarakat terus menjunjung rasa agamis yang akan selalu ditanamkan pada masyarakatnya di desa Bungkeng.

           Tahlilan ini dilakukan dengan membaca surah yasiin dan surah al-fath diikuti dengan penyajian makanan setelahnya untuk menghargai tamu yang telah datang membaca doa untuk keluarga dari tuan rumah yang telah berpulang. Selain itu, salah satu adat di desa Bungkeng yang cukup unik untuk diulas adalah adat burdeh yang terjadi hanya sekali dalam setahun.Adat burdeh sendiri sudah menjadi kebiasaan yang mendarah daging bagi seluruh siswa di Desa Bungkeng. Kata burdeh dalam Bahasa Indonesia diartikan sebagai ‘penangkal tolak bala’ dimana semua kesialan yang terjadi sebelumnya diharapkan dibasuh dengan doa dan semua kembali berkah setelahnya. Kesialan tersebut dulunya berupa penyakit. Adat ini dilakukan dari rumah ke rumah, namun seiring berjalannya waktu, adat ini didesain kembali dengan aturan yang lain. Pemilihan pertigaan daripada Adat burdeh ini dilakukan dengan tujuan untuk menolak semua kesialan yang terjadi. 


          Hal yang menarik dari adat ini adalah pelakunya harus jalan kaki dan melakukan adzan di setiap pemberhentian. Di sepangjang jalan, pelaku burdeh diharuskan membaca sholawat apabila melintasi rumah orang, namun jika pelaku burdeh hanya melewati jalan sepi maka membaca sholawat diiringi dengan bunyi pecut yang di pantulkan ke jalan raya Dengan mengumandangkan adzan di setiap pertigaan yang ada di desa Bungkeng, dilatar belakangi dengan mitos dimana semua penunggu (mahluk halus) yang ada di desa Bungkeng tidak menggangu masyarakat sekitar dalam artian kerasukan. Adat burdeh ini sudah dilaksanakan sejak nenek moyang di desa Bungkeng ini ada.

Potensi Desa Bungkeng

             Dengan tingkat kesuburan yang sedang di tanah yang seluas 136855 Ha dan didukung dengan curah hujan sekitar 12.1 mm/th, maka tanaman yang berhasil dan berpotensi di desa Bungkeng adalah tanaman jagung. Jagung yang ditanam di ladang di setiap rumah ini telah dikalkulasi dengan luas ladang hingga mencapai 2 Ha di setiap rumah diperoleh estimasi panen jagung sebesar 0,74 ton/th. Hal ini ditunjukkan dengan adanya data statistik dimana jagung memperoleh jumlah terbesar dalam sejarah potensi pertanian di desa Bungkeng.Jagung ini nantinya langsung dijual tanpa mengalami pengolahan yang maksimal. 

          Pengolahan jagung di desa ini sangat susah dijumpai sebagai inovasi baru bagi masyarakat desa. Jagung hanya didistribusikan ke pasar Tanjungbumi atau para pemasok.Namun, beberapa petani menjadikan jagung sebagai bahan konsumsi untuk makanan sehari. Terkadang, jagung bisa menjadi tanaman yang memang tidak akan tumbuh dengan suhu sangat tinggi—ketika memang curah hujan tidak terlalu mendukung terjadinya penyuburan. Selain potensi alam, Desa Bungkeng juga memiliki potensi wisata yang apabila dikembangkan menggunakan investor dari luar.

Produk Desa Bungkeng

            Sebuah produk yang tercipta di suatu tempat akan menjadi sebuah ikon atau produk unggulan. Di desa Bungkeng, mayoritas masyarakatnya adalah penjual rujak. Disepanjang jalan di desa Bungkeng banyak dijumpai penjual yang menjajahkan rujak kepada warga yang lalu-lalang di sekitar lokasi. Rujak yang ada di desaBungkeng adalah rujak lontong yang rasanya cukup sedap dan gurih. 

            Ada tiga lokasi yang dapat dijangkau untuk membeli rujak lontong ini, destinasi utama berada di gardu yang terletak tak jauh dari tower XL, destinasi kedua berada di depan toko kecil dan destinasi yang terakhir berada tidak jauh dari rumah Kepala Desa Bungkeng. Dengan rasa yang dapat menggungah lidah, pembeli hanya perlu merogoh kocek sebesar Rp. 5.000.00,- dengan campuran kacang panjang dan kecambah yang dibalut dengan daun pisang sehingga aromanya tetap khas. 


          Rujak lontong khas Bungkeng ini sudah cukup dikenal baik oleh desa tetangga, seperti desa Bandang Dajah dan desa Larangan mengingat jarak ketiga desa ini sangat berdekatan satu sama lain. Tak heran jika masyarakat dari desa lain sering bermain ke desa Bungkeng untuk membelik produk khas ini.

0 comments:

Post a Comment