Web Ini Merupakan Laman Web Resmi Desa Bungkeng Kecamatan Tanjung Bumi Kabupaten Bangkalan. Web ini Berisi Tentang Seluruh Informasi Desa Bungkeng Baik Berupa Kegiatan Warga, Informasi Desa dan lain-lain.
DESA BUNGKENG
Home » , » BUBUR 7 RUPA ALA CHEF UMI SAWI UNTUK PENANGKAL HUJAN DI BUNGKENG

BUBUR 7 RUPA ALA CHEF UMI SAWI UNTUK PENANGKAL HUJAN DI BUNGKENG


            Kita semua pasti tahu dan sering mendengar tentang apa itu hujan. Biasanya ketika hujan kita suka dengan sesuatu yang hangat-hangat. Tidak heran jika saat hujan kita sering melihat orang yang minum kopi, teh, atau makanan-makanan hangat saat hujan untuk mengurangi rasa dingin karena hujan. Jika berbicara tentang hujan, hujan adalah sebuah proses presipitasi, yaitu jatuhnya sejumlah zat cair yang berasal dari atmosfer bumi yang memiliki wujud, baik itu cair maupun beku yang turun ke bumi.
            Namun, tidak sedikit orang yang terkadang tidak menginginkan hujan itu turun. Yah, memang ketika hujan turun segala aktifitas di luar ruangan akan terkendala. Seperti halnya di desa Bungkeng, 3 Februari 2018 kemarin, kami kelompok 1 KKN Universitas Trunojoyo Madura akan melakukan acara perpisahan KKN di desa Bungkeng. Seperti yang kita ketahui bahwa saat ini sedang terjadi musim penghujan. Tentunya jika hujan turun, acara akan mengalami kendala. Semua persiapan yang kita lakukan akan sia-sia. Berbagai carapun kami lalukan untuk mengantisipasi jika saat acara nati hujan turun.
            Setelah persiapan untuk acara selesai, tiba-tiba Pak Sawi dan Bu Sawi menghampiri dengan membawa nampan yang berisi 7 bubur, dibelakang disusul Pak Sawi dengan membawa nampan yang berisi tumpeng kecil, pisang, dan satu buah kelapa, kemudian disusul Mbak Jum, menantu Pak Sawi membawa dupa sambil diketu-ketukkan di sekitar nampan-nampan tadi. Aroma dupa seketika menyeruak di sekitar tempat acara yang akan kita laksanakan. Tidak hanya sampai situ, Bu Sawi melanjutkan rutualnya dengan membakar cabai dan garam di pojok tenda acara yang sudah didirikan. Entah ritual apa yang mereka lakukan. Setelah beberapa rangakaian ritual tersebut dilakukan, Mbak Jum sebagai menantu Pak Sawi menjelaskan bahwa yang tadi dilakukan adalah untuk keselamatan serta kesuksesan acara dan agar hujan tidak turun selama acara berlangsung.
            Hal tersebut sudah menjadi kepercayaan bagi warga Bungkeng, tidak hanya keluarga Pak Sawi. Setiap kali warga Bungkeng akan mengadakan acara, mereka akan melakukan ritual sama seperti yang dilakukan oleh keluarga Pak Sawi. Uniknya lagi, ada satu nampan sesajen yang tidak boleh dimakan sebelum acara selesai, jika dimakan akan membawa sial bagi siapa yang memakannya kata Rofik, Cucu Pak Sawi. Sesajen itu adalah tumpeng ketan yang ujungnya ditutup  daun pisang, buah pisang, dan satu buah kelapa. Berbeda dengan bubur 7 rupa, bubur tersebut diperbolehkan untuk dimakan meskipun acara belum selesai.


Bubur 7 rupa yang dimaksud adalah, 7 buah bubur yang ditempatkan di piring kecil. Sekilas nampak biasa, yang menjadikan bubur tersebut unik adalah di atasnya ditutup dengan daun “dhedhek”. Bubur tersebut terbuat dari ketan dan memiliki rasa yang gurih. Bu Sawilah yang membuat bubur lezat tersebut. Hingga kami menyebut Bu Sawi sebagai Chef Umi Sawi. Kekeluargaan yang kami dapatkan dengan keluarga Pak Sawi begitu erat. Mereka telah menganggap kami seperti anak sendiri katanya. Hingga tidak tanggung-tanggung mereka membuatkan sesajen penangkal hujan demi kelancaran acara perpisahan KKN kelompok 1 di desa Bungkeng. Dan benar saja, yang biasanya tiap malam hujan deras, malam itu tidak turun hujan. Entah kebetulan atau memang sesajen tersebut berkhasiat, bergantung kepercayaan masing-masing.

0 comments:

Post a Comment